Perjuangan Tanpa Batas

IMG_20200627_153308_HDR

Judul: The Old Man and The Sea (Lelaki Tua dan Laut) 

Penulis: Ernest Hemingway

Penerbit: AITBS Publishers, India

Tebal: 131 halaman

Terbit: 2003

ISBN: 81-7473-221-7

Harga: Rs.150 (Rp. 15000,-)

Peresensi: Milana

 

“Why did they make birds so delicate and fine as those sea swallow when the ocean can be so cruel?” (Kenapa burung-burung diciptakan begitu lembut dan Indah, seperti burung layang-layang laut, sedangkan terkadang samudera bisa menjadi sangat kejam? (halaman 23))

Pertanyaan di atas adalah salah satu cuplikan monologue Santiago dalam novela yang melegenda–The Old Man and The Sea (Lelaki Tua dan Laut) karya Ernest Hemingway.  Penulis yang lahir pada tanggal 21 Juli 1899 ini adalah salah satu pelopor fiksi modern pada awal abad XX. Selain penulis novel dan cerpen, ia juga dikenal sebagai jurnalis dan koresponden liputan perang. Pengalaman hidupnya yang kaya–dunia jurnalistik, peperangan, fanatik baseball termasuk petualangan cinta–kerap mewarnai tulisan-tulisannya. Karya-karya cemerlang lainnya sebut saja ‘The Sun Also Rises’, ‘A Farewell to Arms’, ‘The Snows of Kilimanjaro’, ‘Green  Hills of Africa’, dan lain-lain. 

‘The Old Man and The Sea’ (TOMTS) ditulis pada tahun 1951 persis setahun setelah kegagalan novel sebelumnya–‘Across The River and into The Tress’ dalam meraih penerimaan publik. Hemingway berharap dengan TOMTS ini dapat meningkatkan kembali reputasinya. Rupanya keberuntungan berada di pihaknya. Segera setelah dipublikasikan pertama kali pada tahun 1952, TOMTS dengan cepat menyedot perhatian khalayak. Karyanya bak angin segar, berbeda dengan karya penulis kontemporer seperti William Faulkner–yang terkenal dengan gaya penulisan dengan paragraf panjang dan susunan kalimat yang kompleks. Gaya kepenulisan Hemingway menggunakan kalimat pendek, sangat jelas, langsung kepada sasaran. Teknik stakato ini dipercaya membantu para pembaca tidak mudah lelah dalam melahap karyanya. Papa Hemingway–panggilan kesayangan penulis ini menyatakan bahwa dia menggunakan ‘Teknik Iceberg’ (karang es). Dengan teknik ini dia hanya perlu memaparkan seperdelapan bagian saja, sisanya di kembalikan kepada interpretasi masing-masing pembaca. Jadi, pembaca–apapun levelnya–masih mendapatkan gambaran karang es, walau tidak menyelami dari dasar. Hasilnya, dia sukses memulihkan reputasinya dengan meraih penghargaan Pulitzer di tahun 1953 dan Nobel award di tahun 1954 atas jasanya dibidang sastra. 

TOMTS–plot awal dibuka dengan sudut pandang orang ketiga narrator– menceritakan kisah epik seorang nelayan tua asal Kuba yang bertarung di lautan lepas seorang diri demi harga diri.  Berlatar belakang di suatu desa di teluk Meksiko pada pertengahan September 1950, mengisahkan sosok Santiago, karakter utama sebagai nelayan tua yang miskin dan hidup seorang diri tanpa isteri dan keturunan. Usianya sudah di ambang senja dengan banyaknya keriput di sekitar tengkuk leher.  Dia sosok yang sederhana hanya memikirkan hidup saat ini. Tidak lagi memimpikan wanita, memiliki anak, menangkap ikan besar, perkelahian atau bahkan mendiang isterinya. Impiannya hanya satu, melihat singa di pantai Afrika–yang dipercaya refleksi dirinya di waktu muda. Dalam novela ini, Hemingway menyebutkan tiga kali tentang mimpi melihat singa. Maka, harapannya tercurah kepada Manolin–remaja yang telah dia didik sejak umur lima tahun. Namun, selama kurun waktu 84 hari tidak memperoleh hasil satupun, masyarakat mulai mengejek dan menyebutnya sebagai ‘salao’–orang yang sangat sial. Karena itu, pada hari keempat puluh Manolin diperintahkan ayahnya untuk pindah ke nelayan dan perahu yang lebih produktif. Kehilangan muridnya, membuat Santiago bertekad untuk mengarungi laut lebih jauh lagi agar sukses mendapatkan ikan yang dapat memulihkan reputasinya. Segera setelah pisau memotong tali perahu, maka dimulailah perjalanan epik seorang diri ke lautan lepas. Di plot tengah ini, Hemingway secara halus memindahkan sudut pandang orang ketiga masuk kedalam pikiran Santiago, yang juga diekspresikan melalui monolog. Dengan teknik showing yang piawai, pembaca diajak untuk turut merasakan belaian angin laut, menyaksikan ekosistem dari permukaan, merasakan kesendirian di tengah lautan tak bertepi. Perasaan bersahabat Santiago dengan alam di mana dia memperlakukan laut sebagai ‘la mar’, yang berarti wanita. Laut yang dicintai dan dijaga, bukan untuk dikalahkan. 

Pada hari ke-85, Santiago berhasil menangkap ikan besar Marlin. Malang nelayan tua itu tak sanggup memindahkannya ke dalam perahu kecil. Marlin yang belakangan diketahui berukuran kira-kira delapan belas kaki hanya dapat dikaitkan ke perahu, bahkan mulai menariknya semakin jauh ke tengah samudera. Terombang-ambing di lautan mengikuti alur Marlin, Santiago yang pasrah dan kesepian menjadikan Marlin temannya. Akan tetapi, ketika sang ikan mulai kelelahan, Santiago harus berani mengambil keputusan untuk membunuhnya lalu mencicipi sedikit dagingnya. Di sinilah dia mempertanyakan hakikat pekerjaannya–seorang nelayan yang menangkap ikan untuk dibunuh. Darah segar Marlin telah mengundang ikan hiu–Mako. Santiago berhasil mengalahkannya walau kehilangan harpun yang merupakan senjata andalan. Perjuangan belum selesai, dua hiu lain–Galinos–mulai menyerang dengan cara sistematis. Pisau terakhir pun lenyap bersama hiu yang terbunuh lalu tenggelam. Lalu, puncak pertarungan pada malam hari sekelompok hiu kembali menyerang di tengah kegelapan, tanpa senjata tajam. Di sinilah, kekuatan seorang manusia yang telah mencapai limitnya– keterbatasan usia, tenaga dan sarana–kembali diuji. Berulang kali Santiago berandai-andai jika Manolin bersamanya, juga menyesali persiapan yang masih kurang matang, misalnya dengan tidak adanya garam dan jeruk lemon. Namun, dia segera menepis pikiran-pikiran yang akan semakin melemahkan kekuatan mental dan fisik, seperti yang tertulis di halaman 113.

“Now is no time to think of what you do not have. Think of what you can do with what there is.” (Sekarang bukan waktunya untuk berpikir tentang hal yang tak kau miliki. Pikirkan tentang apa yang bisa kau kerjakan dengan apa yang ada saja) 

Apakah Santiago berhasil kembali ke daratan? Apakah Santiago tetap hidup? Jawabannya akan Anda temukan jika membacanya hingga akhir. Seperti karya-karya Papa Hemingway lain yang tidak langsung mudah dipahami, maka TOMTS  pun juga termasuk jenis alegori. Lebih dari sekedar kisah epik nelayan tua di laut, karya ini sarat dengan aneka simbol yang menginterpretasikan filosofi kehidupan dan nilai moral.

Seperti salah satu pertanyaan Santiago pada awal tulisan ini, yang ditujukan kepada Tuhan. Ketika kita mencoba merenungi dengan realita sekitar, mungkin kita akan memahami kebingungannya. Kenapa sesuatu yang baik, seseorang yang jujur dan bersih seringkali menjadi korban dan menjadi pihak yang menderita?

Walaupun pada akhirnya sangat disayangkan kisah yang sarat nilai moral keagamaan ini, tidak membuat penulisnya meneladani daya juang tanpa batas Santiago. Hemingway memilih mengakhiri hidup pada usaha bunuh diri yang keempat kali dengan cara menembak kepalanya. Dia meninggal di Idaho, pada pagi hari tanggal 2 Juli 1961, usia 61 tahun. 

Terakhir, apakah saya merekomendasikan novela ini? Jika novela yang menyabet penghargaan Pulitzer dan Nobel, plus jadi karya tulis rujukan dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi, maka tentunya sudah lebih dari sekedar ‘recommended’.

——————————–

 

Ketika Dendam Menjadi Takdir

 

Judul buku: The Count of Monte Cristo 

Penulis: Alexandre Dumas

Penerbit: Pocket Books, New York, USA

Tahun Terbit: 2004

Halaman: XX + 660 halaman

Bahasa : Inggris

ISBN: 0-7434-8755-9

 

“All human wisdom is contained in these words: wait and hope!” (page 620)

 

Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1844 mengawali genre roman pop culture superhero abad ke-19. Menandai perubahan sosial budaya di Perancis, yang selanjutnya turut mempengaruhi selera pasar masa itu. Publikasinya menimbulkan sensasi, dalam kurun waktu setahun langsung diterjemahkan ke dalam sepuluh bahasa, bahkan tetap populer selama 150 tahun dan diadaptasi ke layar kaca sebanyak lima puluh kali.

 

The Count of Monte Cristo adalah karya Alexandre Dumas yang memberikan kontribusi terbesar di bidang sastra. Karya lainnya yang juga terkenal adalah ‘The Three Musketeers.Dumas sendiri merupakan salah satu penulis terbaik Perancis, dikenal sebagai “King of Paris’ dan ‘King of Historical Romance’. Dumas adalah master dalam roman fiksi sejarah (historical roman fiction), juga master of suspense–dimana dia selalu merangsang pembacanya untuk terus haus menikmati karyanya. Dia termasuk penulis yang produktif, tercatat telah merampungkan karyanya sebanyak 300 volume. Seperti halnya Goethe dan Victor Hugo, ciri khas karya Dumas adalah Byronic Hero–tipikal kisah romansa awal abad ke-19 yang terinspirasi puisinya Lord Byron.

 

Novel ini yang mengambil setting masa pemerintahan Louise XVIII dan 100 hari kembalinya Napoleon ini berkisah tentang petualangan Edmond Dantes, seorang pelaut muda yang baru kembali ke kotanya, Mersailles dari perjalanannya mengarungi lautan di atas kapal Pharaoh. Karena Kapten kapal telah meninggal, Morrel, sang pemilik kapal berniat menjadikan Dantes sebagai kapten yang baru. Kepulangan kali ini, Dantes berencana untuk menikahi kekasihnya, Mercedes Herara, gadis cantik berdarah Spanyol dari keluarga Catalan. Keberuntungan Dantes meninggalkan kedengkian tiga orang, Danglars, Caderousse dan Fernando Mondego. Danglars menyimpan kedengkian karena Dantes dinobatkan sebagai Kapten baru dan disukai seluruh awak kapal. Mondego, yang merupakan sepupu Mercedes, terbakar api cemburu karena tidak berhasil menyunting Mercedes untuk dirinya sendiri. Sedangkan Caderrouse, tetangga Dantes, menyimpan iri hati karena hidup Dantes lebih baik dari dirinya. Ketiganya berkonspirasi menulis surat palsu yang ditujukan kepada pemerintah bahwa Dantes membawa surat dari Napoleon untuk Bonapartis–pendukung Napoleon di Perancis. Hingga, tepat di hari pernikahannya Dantes ditangkap oleh pasukan kerajaaan. Dantes yang buta huruf dan hanya menyampaikan amanah Kaptennya yang meninggal untuk mengantarkan surat mengakui tidak tahu-menahu tentang isi surat itu. Jaksa penuntut umum, Villefort yang memeriksanya, langsung mengetahui bahwa Dantes dijebak dan berniat untuk membebaskannya. Namun, begitu mengetahui kepada siapa surat itu ditujukan–yaitu kepada ayahnya Villefort yang seorang loyalis Bonapartist–maka dia mengubah pikiran dan langsung menjebloskan Dantes tanpa persidangan ke penjara khusus narapidana politik kelas berat di pulau Chateu d’If. Mantan bosnya, Tuan Morrel berulang kali mencoba membebaskan Dantes, tetapi tidak membuahkan hasil. Ayah Dantes meninggal di pangkuan Mercedes karena tidak tahan kepedihan ditinggal anak satu-satunya. Tuan Morrel membiayai pemakaman dan membantu melunasi hutang pria tua yang malang itu. 

 

Dipenjara dalam pengasingan selama bertahun-tahun telah membuat Dantes depresi hingga hampir bunuh diri. Di tahun keenam, dia bertemu dengan tetangga sesama narapidana bernama Abbe Faria–yang menggali terowongan bawah tanah selama bertahun-tahun sebagai jalan melarikan diri. Abbe Faria adalah pendeta dan ilmuwan asal Italia. Ketika mendengar kisah Dantes, dengan cepat dia menyimpulkan bahwa apa yang terjadi dengan Dantes adalah sebuah konspirasi jahat dari orang-orang yang tidak suka dengan keberuntungan hidupnya. Menyadari apa yang telah terjadi sebenarnya, Dantes langsung berubah sosok dari seorang yang naif dan baik hati menjadi sosok yang dipenuhi dendam kesumat. 

 

“I almost regret having helped you in your researches and having told you what I did,” he said.

“Why?”

“Because I have instilled into your heart a feeling that previously held no place there–vengeance.” (page 92-93)

 

Abbe Faria lalu mengerahkan segala pengetahuannya mendidik Dantes semua bidang ilmu; Dantes yang cerdas dengan cepat menangkap semua pelajaran dalam waktu dua tahun. Kedekatan mereka membuat Abbe Faria menjadikannya anak angkat dan membocorkan rahasia terbesar yang dimiliki yaitu peta harta karun peninggalan keluarga terkaya di Italia. Menjelang kematiannya, Abbe mewariskan peta harta karun kepada Dantes. Memanfaatkan momen penguburan jenaazah, Dantes menukar dirinya ke dalam kantong jenazah dan berhasil melarikan diri. 

 

Sepuluh tahun kemudian, Dantes bertransformasi menjadi bangsawan kaya raya bernama Count Monte Cristo dan siap membalaskan dendam kepada Mondego, Danglars dan Villefort.Mercedes pun tak luput jadi sasaran pembalasan dendam karena dianggap berkhianat dengan menikahi Mondego. Kisah berikutnya dalam novel ini bertutur dengan jatuhnya satu persatu musuh Count. Sebagaimana kisah klasik lainnya yang kompleks dengan cerita yang memiliki banyak lapis, maka kisah sang Count tidak hanya menjadi sentra cerita, tetapi juga generasi kedua para karakter utama. Seperti kisah Maximillan dan Valentine, Haydee, masa lalu Danglars dan Villefort. Juga setting sejarah yang kuat paska revolusi Perancis mewarnai perjalanan kisah ini. 

 

Kelemahan dalam novel ini transformasi sosok Dantes yang berubah drastis seperti pesulap, menjadi sosok yang sama sekali tidak kita kenal, dianggap hampir mustahil. Pun latar belakang sang penulis yang bukan psikolog dan lemah dalam sejarah membuat para ahli sejarah di Perancis tidak terlalu menghargai karyanya ini. Sikap politik Dumas yang pro Napoleon juga membuat dia menuliskan karakter para Bonapartist seperti Kapten kapal, Morrel, Noirtier sebagai sosok yang simpatik. Sedangkan dia memotret sosok para elit Kerajaan sebagai sosok ‘villain’. 

 

Terakhir, novel ini tetap sangat recommended untuk dinikmati sebagai karya sastra yang kaya rasa dan hikmah akan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Sebagaimana kutipan di akhir novel, “all human wisdom is contained in this word; wait and hope.” Bahwa apapun yang terjadi kepada manusia, hanya Tuhan yang paling menentukan bagaimana takdir berikutnya. Sebagai manusia kita hanya bisa; menunggu dan berharap.IMG_20200308_181026

—–

Satu Buku yang Membuka Pintu Buku Lain

IMG_20200610_001742_HHT

Judul buku: Speed Reading for Beginners

Penulis: Muhammad Noer

Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: cet pertama Maret 2012
Hal: xvii + 145 halaman
ISBN: 978-979-22-7933-7
Pereview: Milana

Stay at home, salah satu aktivitas melawan rasa bosan adalah kembali bergumul dengan buku-buku. Membaca menjadi kegiatan pilihan. Walaupun kaki kita tidak bisa menapak dan menjelajah ragam tempat, tidak leluasa melompat ruang sekat, pikiran kita masih bebas melanglang buana melalui buku-buku. Tidak salah jika dikatakan buku adalah jendela ilmu dan jendela dunia. Saya bisa ke Jepang melalui karya Murakami, berkunjung ke India melalui Arundhati Roy dan Robin Sharma, melancong ke Perancis melalui Alexander Dumas, ataupun ke Rusia melalui pena Chekov dan Gorky. Baik non maupun fiksi. Mulai dari religi, motivasi, romansa, dan novel anak yang saya baca bersama anak-anak.

Sepertinya buku-buku yang saya baca selama pandemik semuanya bagus dan menarik. Tidak ada yang terbaik. Namun, jika harus memilih mana yang jadi pilihan, maka saya memilih buku ini, ‘Speed Reading for Beginners.’
Kenapa saya memilih ini? Karena buku ini membantu saya menambah jumlah buku-buku yang saya baca dengan lebih cepat. 😊

Pernah dalam salah satu sessi pelatihan kepenulisan, Kang Maman Suherman memberikan nasihat, “Saya mengajak teman-teman untuk tak henti membaca jika ingin menjadi penulis. Saya menargetkan satu buku tamat dalam tiga hari, alias sepuluh buku dalam sebulan atau 120 buku setahun.”

Saat itu saya cukup terhenyak. Satu buku dalam tiga hari? 120 buku setahun? Jujur, sebagai ibu rumah tangga dengan beban kerja 7/24 jam, dapat membaca dengan tenang setiap hari masih merupakan barang mewah. Sebulan bisa tamat satu buku saja sudah merupakan kepuasan tersendiri. Tetapi setelah dipikir memang benar, kualitas tulisan seorang penulis terlihat dari bacaannya.

Saya lalu teringat akan buku yang berjudul Speed Reading for Beginners yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, karya teman kuliah saya dulu,  Muhammad Noer. Beliau adalah trainer profesional kenamaan yang sering mengisi ragam pelatihan tingkat corporate.

Buku  yang pertama kali diterbitkan di tahun 2012 ini terdiri dari 9 bab dan 145 halaman, lengkap dari teori hingga praktek. Dikemas dengan bahasa yang ringan dan sangat praktis.
Pada awal-awal pembahasan, penulis memberikan gambaran tentang pentingnya keahlian membaca cepat. Tentu saja termasuk di dalamnya, urgensi membaca sebagai jendela ilmu. Salah satunya adalah speed reading membantu kita memilih bahan bacaan yang kita butuhkan ditengah ledakan  informasi. Penulis juga membahas kesulitan orang Indonesia dalam membudayakan aktivitas membaca.
Saya memperhatikan salah satu alasan banyak orang tidak suka membaca buku karena banyaknya waktu yang harus dihabiskan meskipun buku itu menarik. Mereka tidak tahan jika harus berhari-hari menghabiskan suatu buku tertentu.” (hal 10).
Jadi, meningkatkan kemampuan membaca cepat adalah salah satu solusinya, bukan?

Yang mengesankan bagi saya saat membaca buku ini adalah penulis seakan membawa saya bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu. Beliau memuat catatan mind map dari beberapa mata kuliah, seperti di salah satu bab Makroekonomi-nya Lipsey. Dulu, buku Lipsey termasuk yang jadi momok buat saya karena bahasa English British yang masih sulit dicerna awal-awal kuliah dulu. Karena pendidikan sejak SD hingga SMU tidak terbiasa dengan buku-buku pelajaran berbahasa Inggris. Begitu memasuki masa kuliah, langsung disuguhkan semua buku yang berbahasa Inggris. Bukunya pun tebal-tebal, sering jadi alas tidur saat ngantuk, hehe. Maka, seperti kebanyakan mahasiswa jelang ujian masa itu adalah berburu teman yang memiliki catatan kuliah rapi dan berkompeten untuk berbagi pemahaman tentang bahan kuliah yang akan diuji. Muhammad Noer, salah satunya. Beliau suka berbaik hati berbagi ilmu dan mempermudah saya dan teman-teman lain dengan metode mind map ini. Selasar lobbi A, mushola, cafe kampus menjadi tempat kenangan saya dan teman-teman belajar bersama.

Kembali lagi ke buku speed reading. Memang tidak semua buku dapat dibaca dengan teknik yang cepat. Seperti makalah-makalah eksakta yang dimiliki suami saya. Biasanya sekitar satu hingga lima lembar halaman, namun penuh angka-angka matematika. Bukan kecepatan membaca yang dibutuhkan, tetapi kedalaman pemahaman. Begitu juga dengan novel fiksi. Tidak semua bisa dengan cepat dilahap. Adakalanya kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan. Novelnya Gorky, misalnya. Seringkali saya berhenti lalu membandingkan apa yang Gorky tulis dengan konsep-konsep sistem Islami yang ditulis Maududi dan Sayyid Quthub misalnya, sebagai pembanding saja agar saya tidak oleng ke kiri, hehe.

Dimasa pandemik dan resesi ekonomi ini juga terbuka peluang kemudahan mengakses perpustakaan diberbagai belahan dunia untuk menemani masa-masa ‘stay at home’. Termasuk Ipusnas. Walaupun terlambat bagi saya menggunakannya, saya tetap sangat senang. Saya dapat kembali menikmati buku-buku berbahasa Indonesia walau jauh dari tanah air. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi saya untuk sulit mendapatkan dan membaca buku.

Terakhir, practices make perfect. Kemampuan membaca cepat harus ditingkatkan dengan banyak berlatih dan meningkatkan jam terbang baca.
Selamat menjelajahi dunia dengan buku!
——

Lima Belas Menit yang Menyiksa

Pada suatu Jumat, seorang buruh pabrik–sebut saja namanya Rasheed–tampak terburu-buru berjalan menuju jalan raya. 

Polisi yang sedang berjaga di posko depan pabrik saat itu memanggilnya, “Mau kemana Engkau, Rasheed Sahib?” 

“Aku mau ke Masjid Ibrahim, Jumatan di sana.” Rasheed berbalik arah, mendekati Pak Polisi. 

“Kenapa harus ke sana? Bukankah kalian semua biasa salat di belakang pabrik?” tanya polisi berkumis itu. Dia heran karena Masjid Ibrahim yang terletak di Raiwind Markaz–yang merupakan sentra kegiatan Jamaah Tabligh di Pakistan–tidak terlalu dekat jaraknya dengan pabrik ini. Setidaknya butuh waktu lima belas menit perjalanan dengan mobil. 

“Aku dengar Syeikh Maulana Tariq Jameel akan memberikan khutbah Jumat di sana.” 

Pak Polisi manggut-manggut begitu mendengar nama salah satu ulama pucuk Jamaah itu. 

“Jangan khawatir, Rasheed bhai, aku akan membantumu. Tunggu di sini.”

Polisi itu lalu berjalan keluar dari poskonya. Berdiri di pinggir jalan, menunggu mobil yang lewat. Ini bukan kali pertama dia membantu Rasheed dan buruh lainnya. Sepertinya ada imbalan balik dari para buruh. Simbiosis mutalisme–demikian  pola yang menggambarkan hubungan polisi dan para buruh pabrik. Memang sudah jadi kecenderungan manusia untuk saling memberi manfaat dan mengambil keuntungan satu sama lain. 

Tak lama kemudian satu mobil lewat di depan mereka. Melalui kaca yang agak gelap, terlihat total empat penumpang di dalamnya. Polisi menyetop mobil itu. 

“Ada apa, ya?” tanya sang supir. 

“Tolong angkut Bapak ini ke Masjid Ibrahim.” 

Sang sopir menoleh ke arah Rasheed. 

“Maaf, bhai, mobil kami sudah penuh,” ujar si supir dengan wajah memelas. 

Polisi semakin mendekatkan dirinya ke arah supir sambil memegang pentungan di tangannya. 

“Ayolah, kamu masih bisa atur. Jika tidak, kalian tidak boleh melewati jalan ini.” 

Sang supir terdiam, lalu menoleh ke belakang dan berdiskusi sebentar dengan penumpangnya. Dengan agak kesal dia membuka pintu mobil. “Baiklah, silakan masuk.” 

Setelah mengucapkan terima kasih kepada polisi yang membantunya, Rasheed segera duduk di kursi belakang mobil. Begitu pintu dibuka, dia sungguh terkejut menyadari siapa yang duduk di dalam. 

“A-a-aku berubah pikiran. Kalian silakan berangkat, aku akan sholat di masjid belakang saja.” Rasheed bersiap memutar balik, namun pria di dalam mobil mencegahnya. 

“Tidak apa, masih muat. Kita searah, mari berangkat bersama,” ucap pria itu dengan senyum penuh karismatik. 

Dengan sungkan, Rasheed duduk di dalam mobil. Dia menundukkan kepalanya, teramat dalam. Seandainya rasa malu ini dapat mencegahnya untuk memaksa tumpangan, tentu perjalanan selama lima belas menit ini tidak akan terlalu menyiksa perasaan. Sungguh, perjalanan bersama Sang Syeikh yang duduk di sampingnya,tidak akan pernah ia lupakan. 

——-